Tampilkan postingan dengan label artikel perikanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel perikanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2015

BUDIDAYA KEPITING SOKA


INFO PENTING :

Dinas Kelautan dan Perikanan Tarakan, kini serius mengembangkan budidaya Kepiting Soka. Kepiting dengan cangkang lunak ini memang banyak digemari karena kulitnya bisa konsumsi bersamaan dengan dagingnya. Selain untuk konsumsi lokal, Kepiting Soka saat ini lebih banyak diekspor ke Eropa dan Asia. Di pasaran lokal, Kepiting Soka dihargai Rp 40.000 sampai Rp. 50.000 per kilogram.

Di tengah tingginya permintaan, petambak yang membudidayakan Kepiting Soka di Tarakan, masih sangat sedikit. Untuk itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Tarakan, berupaya melakukan pembinaan. Baik teknis maupun non teknis kepada para petambak, untuk menekuni bisnis yang menggiurkan ini.

Kepiting Soka adalah jenis kepiting yang memiliki cangkang lunak. Jika biasanya orang enggan mengkonsumsi kepiting karena harus berjuang mendapatkan daging yang berada di antara cangkang yang keras, kini tak perlu repot lagi. Karena kulit atau cangkang Kepiting Soka yang lunak bisa ikut di makan. Apakah anda tertarik untuk mencoba rasanya, atau ingin membudidayakannya?

BUDIDAYA SOKA PERLU KETELITIAN
Budidaya Kepiting Soka terbilang masih baru, sehingga belum banyak masyarakat yang menggelutinya. Satu di antara segelintir orang yang mengusahakan Kepiting Soka, adalah Heri. Menurutnya, memelihara Kepiting Soka lebih sulit dari kepiting lainnya. Karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Hampir 5 bulan terakhir, Heri warga Mamburungan ini memulai usaha budidaya kepiting lunak. Ia mengaku, tidak mudah untuk membudidayakan kepiting jenis ini. Karena sangat membutuhkan ketelitian dalam perawatannya. Namun, prinsip budidaya Kepiting Soka ala Heri sangat sederhana. Yakni dari benih Kepiting Bakau ukuran 10 sampai 12 hari, diadaptasikan dengan lingkungan tambak selama 1 hari. Kemudian dipotong kedua capitnya. Demikian pula dengan keenam kaki jalannya. Sementara kedua kaki renangnya tetap dibiarkan utuh.

Setelah pemotongan kaki, kepiting lalu dimasukan lagi ke dalam keramba dan dibelihara selama 15 hari, atau sampai mengalami proses ganti kulit atau molting. Saat molting inilah, kepiting akan menghasilkan cangkang baru yang lunak dan siap untuk dipanen. Panen kepiting dilakukan Heri beberapa hari sekali dengan hasil panen 20 sampai 25 kilogram. Hasil panen ia jual ke pengepul dengan harga RP 40.000 hingga Rp. 50.000 per kilogram. Fungsi dari pemotongan capit dan kaki jalan kepiting adalah untuk membuat stres kepiting sehingga proses moltingnya juga akan lebih cepat.

Budidaya Kepiting Soka, dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan budidaya kepiting biasa di keramba. Karena tingkat kematiannya maksimal 20 persen. Selain lebih manis, rasa Kepiting Soka juga lebih gurih dibanding kepiting biasa.

Sumber informasi :
Dinas Kelautan dan Perikanan Tarakan, kini serius mengembangkan budidaya Kepiting Soka. Kepiting dengan cangkang lunak ini memang banyak digemari karena kulitnya bisa konsumsi bersamaan dengan dagingnya. Selain untuk konsumsi lokal, Kepiting Soka saat ini lebih banyak diekspor ke Eropa dan Asia. Di pasaran lokal, Kepiting Soka dihargai Rp 40.000 sampai Rp. 50.000 per kilogram.

Di tengah tingginya permintaan, petambak yang membudidayakan Kepiting Soka di Tarakan, masih sangat sedikit. Untuk itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Tarakan, berupaya melakukan pembinaan. Baik teknis maupun non teknis kepada para petambak, untuk menekuni bisnis yang menggiurkan ini.

Kepiting Soka adalah jenis kepiting yang memiliki cangkang lunak. Jika biasanya orang enggan mengkonsumsi kepiting karena harus berjuang mendapatkan daging yang berada di antara cangkang yang keras, kini tak perlu repot lagi. Karena kulit atau cangkang Kepiting Soka yang lunak bisa ikut di makan. Apakah anda tertarik untuk mencoba rasanya, atau ingin membudidayakannya?
BUDIDAYA SOKA PERLU KETELITIAN
Budidaya Kepiting Soka terbilang masih baru, sehingga belum banyak masyarakat yang menggelutinya. Satu di antara segelintir orang yang mengusahakan Kepiting Soka, adalah Heri. Menurutnya, memelihara Kepiting Soka lebih sulit dari kepiting lainnya. Karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Hampir 5 bulan terakhir, Heri warga Mamburungan ini memulai usaha budidaya kepiting lunak. Ia mengaku, tidak mudah untuk membudidayakan kepiting jenis ini. Karena sangat membutuhkan ketelitian dalam perawatannya. Namun, prinsip budidaya Kepiting Soka ala Heri sangat sederhana. Yakni dari benih Kepiting Bakau ukuran 10 sampai 12 hari, diadaptasikan dengan lingkungan tambak selama 1 hari. Kemudian dipotong kedua capitnya. Demikian pula dengan keenam kaki jalannya. Sementara kedua kaki renangnya tetap dibiarkan utuh.

Setelah pemotongan kaki, kepiting lalu dimasukan lagi ke dalam keramba dan dibelihara selama 15 hari, atau sampai mengalami proses ganti kulit atau molting. Saat molting inilah, kepiting akan menghasilkan cangkang baru yang lunak dan siap untuk dipanen. Panen kepiting dilakukan Heri beberapa hari sekali dengan hasil panen 20 sampai 25 kilogram. Hasil panen ia jual ke pengepul dengan harga RP 40.000 hingga Rp. 50.000 per kilogram. Fungsi dari pemotongan capit dan kaki jalan kepiting adalah untuk membuat stres kepiting sehingga proses moltingnya juga akan lebih cepat.

Budidaya Kepiting Soka, dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan budidaya kepiting biasa di keramba. Karena tingkat kematiannya maksimal 20 persen. Selain lebih manis, rasa Kepiting Soka juga lebih gurih dibanding kepiting biasa.

Sumber Informasi :
http://blog.unila.ac.id/gnugroho/2009/07/23/potensi-budidaya-kepiting-soka/

BUDIDAYA BANDENG


MARI MENCOBA :

I. Pendahuluan.
Ikan bandeng merupakan adalah satu jenis ikan penghasil protein hewani yang tinggi. Usaha intensifikasi budidaya perlu dilakukan karena rendahnya produktivitas bandeng dengan budidaya tradisional. Peningkatan sistem budidaya juga harus diikuti dengan penggunaan teknologi baru.
PT. NATURAL NUSANTARA memberikan teknologi yang diperlukan dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan).

II. Sifat Biologis.
Bandeng termasuk golongan ikan herbivora , yaitu bangsa ikan yang mengkonsumsi tumbuhan. Mampu mencapai berat rata-rata 0,6 kg pada usia 5 - 6 bulan dengan pemeliharaan yang intensif.

III. Penyediaan Benih.
Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu dengan mutu yang baik dilakukan dengan sistem pembenihan yang intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran dan kolam pembsaran. Dalam pembenihan bandeng langkah yang dilakukan adalah :

1. Pemilihan induk yang unggul . Induk yang unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, Ciri-cirinya :
- bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal.
- ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.
- susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka.
- gerakan lincah dan normal.
- umur antara 4 5 tahun.

2. Merangsang pemijahan. Kematangan gonad dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.`

3. Memijahkan. Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan

4. Penetasan. Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 - 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva yang masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.

5. Merawat benih. Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener . Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan NASA dengan dosis 2 - 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.

IV. Pembesaran.
Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :

1. Persiapan lahan.
Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air. kegiatan yang dilakukan selama persiapan lahan adalah :

- Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.

- Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 - 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.

- Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.

- Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 - 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.

2. Pemindahan nener. Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan sedalam 30 - 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam

materi referensi:
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007…

Jumat, 13 November 2015

BUDI DAYA IKAN LELE


INSPIRASI :

Budi daya ikan lele merupakan salah satu peluang usaha yang cukup diperhitungkan saat ini. Apabila kita perhatikan banyak terdapat penjual pecel lele yang memerlukan pasokan ikan lele setiap harinya, hal inilah yang membuat permintaan ikan tersebut menjadi semakin tinggi di pasaran dan membuka potensi peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Ternak ikan lele relatif lebih mudah apabila dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya seperti ikan mas atau mujair karena lebih tahan terhadap penyakit maupun kondisi lingkungan. Berikut ini adalah gambaran secara umum tentang cara budidaya ikan lele


*Pembenihan Lele.

Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.

* Sistem Budidaya

Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :

1. Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.

2. Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.

3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi).

Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele.

*Tahap Proses Budidaya

A. Pembuatan Kolam.

Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :

Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.

Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.

Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.

Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.

B. Pemilihan Induk

Induk jantan mempunyai tanda :

- tulang kepala berbentuk pipih

- warna lebih gelap

- gerakannya lebih lincah

- perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung

- alat kelaminnya berbentuk runcing.

Induk betina bertanda :

- tulang kepala berbentuk cembung

- warna badan lebih cerah

- gerakan lamban

- perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.

C. Persiapan Lahan.

Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :

- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.

- Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.

- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.

- Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.

Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :

- Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.

- Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama

D. Pemijahan.

Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.

E. Pemindahan.

Cara pemindahan :

- kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.

- siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.

- samakan suhu pada kedua kolam

- pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.

- pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.

F. Pendederan.

Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.

* Manajemen Pakan

Pakan anakan lele berupa :

- pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari.

- Pakan buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.

- Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

* Manajemen Air

Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :

- air harus bersih

- berwarna hijau cerah

- kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).

Ukuran kualitas air secara kimia :

- bebas senyawa beracun seperti amoniak

- mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C).

Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.

* Manajemen Kesehatan

Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.

Sumber Info :
http://promosipeluangusaha.com/peluang-usaha-budi-daya-ikan-lele/

Selasa, 21 April 2015

USAHA IKAN HIAS AQUARIUM

PENDAHULUAN


Sejalan dengan lajunya pembangunan Kota Jakarta, maka perkembangan perikananpun mengalami peningkatan yang sangat pesat. Hal ini dimungkinkan karena pada hakekatnya Kota Jakarta merupakan Wilayah konsumen yang potensil, sehingga sangat mendukung dalam usaha pemasarannya.

ikan_hias

Mengamati kegiatan usaha Perikanan khususnya ikan hias tentunya tak dapat dipisahkan dengan sarana penunjang yang yang tak kalah pentingnya dengan usaha ikan hias itu sendiri yaitu “AQUARIUM” karena betapun indahnya ikan hias apabila tidak ditunjang dengan penampilan aquarium serta dekorasi yang memadai, maka sesungguhnya nilai keindahan itu telah berkurang dan ini hanya bisa dicapai melalui penanganan yang tekun dan berkelanjutan.

ikan_hias_2

Untuk mengembangkan usaha ikan hias diwilayah DKI Jakarta dilaksanakan melalui Pusat Promosi Hasil-hasil Perikanan yang beralokasi di Jalan Sumenep, Jakarta Pusat.


PERLENGKAPAN AQUARIUM


  1. Aquarium dalam keadaan bersih dan tidak bocor
  2. Tanaman hdiup secukupnya
  3. Bahan-bahan dekorasi: pasir bersih (tidak mengandung lumpur), koraltex, akar kayu dan batu karang
  4. Pompa udara (aerator) sebagai alat penambah oksigen dalam air
  5. Lampu neon ultra violet pada malam hari dapat menimbulkan rasa alami yang mempesona
  6. Filter yang dihubungkan dengan aerator berfungsi sebagai penyaring kotoran dalam air
  7. Peralatan lainnya: slang plastik, serokan dan pembersih kaca.

aquarium_1

TEKNIS DEKORASI AQUARIUM


  1. Pasir dimasukkan kedalam aquarium lalu diatur/dipadat sambil diberi percikan air secukupnya.
  2. Kemudian tanaman air ditanam dengan cara dibenamkan kedalam pasir (tanaman yang lebih tinggi diletakkan dibagian belakang)
  3. Setelah diperkirakan siap untuk didekor, maka sebelum diisi air permukaan tanaman dan pasir ditutup dengan kertas koran atau plastik. Hal ini dilakukan dengan maksud agar tekanan air tidak merusak tanaman dan tidak menimbulkan kekeruhan.
  4. Air dalam aqurium ditunggu sampai kotorannya mengendap, lalu ikan dimasukkan (diusahakan jenis ikan yang tidak saling memangsa)
  5. Tahap selanjutnya aerator dipasang sesuai ukuran aquarium, tapi bila tersedia banyak tanaman hidup, aerator cukup dipasang pada malam hari saja
  6. Aquarium diletakkan ditempat yang datang agar tekanan air merata dan diusahakan jangan terlalu banyak terkena sinar matahari karena akan mempercepat tumbuhnya lumut.

MAKANAN IKAN


  • Makanan ikan hias air tawar terdiri dari 2 macam yaitu: makanan alami seperti kutu air (Moina) cacing rambut (Fubifek, Chironomus) dan lawa nyamuk (cuk).
  • Makanana alami harus dibersihkan/dibilas terlebih dahulu dengan air bersih sebelum di berikan pada ikan dan satu hari cukup 1 (satu) kali saja
  • Makanan buatan: wafer, tahu, darah ayam/kerbau/marus
  • Makanan buatan sebaiknya diberikan pada saat tidak ada makanan alami
  • Pemberian makanan diusahakan jangan sampai tersisa karena dapat menimbulkan pembusukan/keracunan

MANFAAT


ikan_hias_3

Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dari keindahan aquarium ikan hias antara lain:

  1. dapat mendidik rasa cinta alami
  2. merupakan hiburan yang dapat mengendorkan urat syaraf serta menimbulkan rasa tentram di rumah
  3. menambah keindahan ruangan dan tidak memerlukan tempat yang luas
  4. merupakan usaha sambilan yang dapat menambah penghasilan keluarga
  5. menjaga kelestarian sumber daya perikanan

Sumber: Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta

Selasa, 31 Maret 2015

BUDIDAYA BELUT_2

Referensi :

Persiapan Bibit Belut

Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Anak belut di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan. Bibit belut bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit belut diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.

Pemilihan bibit belut bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm

Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor belut pejantan dengan dua ekor belutbetina untuk kolam seluas 1 m 2 . Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur telur ikan belutmenetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran inibelut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.

Perlakuan dan Perawatan Bibit Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak anak belut yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

Disamping itu diperhatikan pula pemilihan induk belut jantan dan betina sebagai berikut :

Ciri Induk Belut Jantan

  • Berukuran panjang lebih dari 40 cm.
  • Warna permukaan kulit gelap atau abu-abu.
  • Bentuk kepala tumpul.
  • Usia diatas sepuluh bulan.

Ciri Induk Belut Betina

  • Berukuran panjang 20-30 cm
  • Warna permukaan kulit cerah atau lebih muda
  • Warna hijau muda pada punggung dan warna putih kekuningan pada perut
  • Bentuk kepala runcing
  • Usia dibawah sembilan bulan.

Pemeliharaan dan pembesaran

Pemupukan Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama

Belut akan cepat besar jika medianya cocok. Media yang digunakan terdiri dari lumpur kering, kompos, jerami padi, pupuk TSP, dan mikroorganisme stater. Peletakkannya diatur: bagian dasar kolam dilapisi jerami setebal 50 cm. Di atas jerami disiramkan 1 liter mikroorganisma stater. Berikutnya kompos setinggi 5 cm. Media teratas adalah lumpur kering setinggi 25 cm yang sudah dicampur pupuk TSP sebanyak 5 kg.

Karena belut tetap memerlukan air sebagai habitat hidupnya, kolam diberi air sampai ketinggian 15 cm dari media teratas. Jangan lupa tanami eceng gondok sebagai tempat bersembunyi belut. Eceng gondok harus menutupi ¾ besar kolam.

Bibit belut tidak serta-merta dimasukkan. Media dalam kolam perlu didiamkan selama 2 minggu agar terjadi fermentasi. Media yang sudah terfermentasi akan menyediakan sumber pakan alami seperti jentik nyamuk,zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik. Setelah itu baru bibit belut dimasukkan.

Pemberian Pakan Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.

Sumber Browser : click here

Masa pemanenan Budidaya Belut

  1. Berupa benih/bibit belut yang dijual untuk diternak/dibudidayakan
  2. Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).

Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja

Pengangkutan belut

Belut yang telah di panen, dimasukkan kedalam kantong Plastik, tambahkan air, Beri tambahan oksigen dan ikatlah dengan rapat. Pengangkutan dengan tambahan oksigen dapat bertahan 6 jam perjalanan. Setelah itu tambahkan oksigen kembali sampai tiba ditempat tujuan.

Pengangkutan dengan drum atau jerigen yang diisi air juga bisa dilakukan, tetapi hindari terik matahari langsung. Gantilah dengan air baru setelah 3-4 jam perjalanan agar belut tetap sehat dan tidak lemas.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA BELUT

Analisis Usaha Budidaya Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:

Biaya Produksi : Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,2. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,- Rp. 225.000,-

Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,4. Lain-lain Rp. 30.000,Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,2. Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,- Rp. 750.000,3. Keuntungan Rp. 422.000.

Dengan asumsi tingkat kematian belut 5-10% hingga berumur 9 bulan, dapat dihitung 4-5 bulan setelah menebar bibit, bakal dapat memanen 400 kg belut. Dengan harga Rp40.000/kg, total pendapatan yang diraup Rp16-juta. Setelah dikurangi biaya-biaya sekitar Rp2-juta, diperoleh laba bersih Rp14-juta.

Prospek budidaya belut

Prospek budidaya belut masih sangat bagus, apalagi saat musim kemarau, karena belut sulit didapatkan.

Pada awalnya, belut sawah dikenal sebagai hama pada tanaman padi di sawah. Sedangkan belut tambak, dikenal pula sebagai hama pada lahan tambak karena memakan udang atau bibit ikan yang dikembangbiakan di tambak.

Sumber Browser : Click here


Kamis, 19 Maret 2015

IKAN TERI

Artikel Perikanan :

Ikan teri atau ikan bilis adalah sekelompok ikan laut kecil anggota keluarga Engraulidae. Nama ini mencakup berbagai ikan dengan warna tubuh perak kehijauan atau kebiruan.

Walaupun anggota Engraulidaei ada yang memiliki panjang maksimum 23 cm, nama ikan teri biasanya diberikan bagi ikan dengan panjang maksimum 5 cm.

Moncongnya tumpul dengan gigi yang kecil dan tajam pada kedua-dua rahangnya. Mangsa utama ikan ini ialah plankton.

Di kawasan sekitar Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, ikan ini biasa digoreng dan dihidangkan dengan sambal bersama-sama nasi hangat atau nasi lemak. Ikan ini juga dihaluskan berbentuk tepung. Di Vietnam, saus ikan - simbol tidak resmi negara itu - dibuat dengan bahan utama ikan teri.

Jika kita mengenal istilah osteoporosis, maka kata ini sering kali menghantui setiap orang, terutama wanita yang telah memasuki masa menopause. Osteoporosis merupakan keadaan berkurangnya massa tulang sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Penyebabnya karena kekurangan kalsium.

Kalsium, selain membantu mencapai massa tulang yang optimal dan mencegah patah tulang, juga bermanfaat dalam membantu pembentukan dan pemeliharaan gigi. Nah, ikan teri bisa menjadi solusi atas permasalahan Anda.

Ikan teri merupakan salah satu sumber kalsium yang murah harganya dan mudah didapat sehingga bisa menjangkau seluruh kalangan. Berdasarkan Nutry Survey Indonesia, kandungan kalsium ikan ini lebih tinggi daripada susu. Kandungan lain yang menonjol dari ikan ini adalah kandungan energinya, yaitu protein 74 persen dan lemak 26 persen.

Meski ikan ini termasuk paling tinggi kalsiumnya, penyerapan kalsiumnya oleh tubuh tidak sebaik penyerapan kalsium dari susu dan produk olahannya. Karena susu mengandung laktosa yang membantu penyerapan kalsium. Pada ikan ini tidak mengandung zat tersebut.

Kalsium dari ikan teri dapat bermanfaat jika tubuh mengkonsumsinya secara langsung. Pasalnya, di dalam tubuh kalsium bekerja sama dengan laktosa dan vitamin D untuk pembentukan massa tulang, serta dengan kalium untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Hal ini terjadi karena cara mengkonsumsi ikan ini dimakan bersama tulangnya.

Pada bahan makanan hewani dikonsumsi bersama tulangnya yang memiliki kandungan kalsium yang tinggi. Dan makan ikan ini merupakan sumber kalsium tertinggi. Kalsium sendiri merupakan kandungan utama dalam struktur pembentukan tulang.

Meski ikan teri bagus dikonsumsi untuk mencegah osteoporosis, namun mereka yang menderita asam urat harus waspada. Pasalnya, kandungan protein yang tinggi membuat hasil metabolisme dari protein berbentuk purin yang akan meningkatkan kandungan asam urat dalam darah.

Sebaiknya ikan ini tidak terlalu sering dikonsumsi oleh mereka yang memiliki penyakit asam urat. Tapi bisa disiasati dengan minum air putih yang banyak, sekitar 10 gelas per hari, agar purin yang dihasilkan dari metabolisme protein ikan terbuang melalui urine.

Sumber : push click

Manfaat Ikan teri,
Benar nggak kadang kita menyepelekan yang namanya ikan teri, karena bentuknya yang kecil atau karena tidak elit.

Ternyata dari beberapa jenis ikan teri yang saya ketahui ikan teri nasi atau teri medan dan ikan teri jengki. Ikan teri jengki(Stolephorus insularis) adalah yang termasuk populer. Walaupun ikan teri itu sangat kecil ternyata mempunyai banyak manfaat jika kita benar dalam memasak dan memilihnya. Nggak percaya? coba simak yang berikut ini:

Ikan teri Bisa mencegah osteporosis, Salah satunya yang dianjurkan mengonsumsi ikan teri, sayur-sayuran, dan buah-buahan setiap hari untuk mencegah keropos tulang (osteoporosis) di masa tua.

Bahkan ikan teri jengki mengandung kalsium dan fluor dalam bentuk senyawa CaF2 dalam konsentrasi yang cukup besar.

“Saat ini rata-rata penduduk Indonesia hanya mengonsumsi 254 mg kalsium per hari, padahal kebutuhan kalsium 1.000 mg per hari per orang untuk memperkuat tulang,” katanya. Oleh karena itu, harus memperbanyak makanan yang banyak mengandung kalsium seperti halnya ikan teri.

Komposisi 100 gr / 1 ons ikan teri :
•Protein 33,40%
•Lemak 3,00%
•Fosfor 1,50%
•Besi 0,0036%
•Vitamin B1 0,15 mg %
•Energi 77 kkal
•Kalsium 500 mg – 1200 mg
•Vit A RE 47

Masih meremehkan Ikan teri?

Sumber : push here

Browser : soelistijono

PETIS UDANG


Artikel Perikanan :

Petis udang sebenarnya bukan merupakan suatu jenis makanan, tapi mampu membuat suatu makanan lebih nikmat untuk disantap. Yang paling terkenal adalah tahu goreng. Kita bisa menggoreng tahu tanpa menggunakan bumbu sedikitpun. Jadi rasanya tentu akan menjadi hambar. Namun bagaimana bila tahu tersebut dimakan dengan saus yang terbuat dari udang ini. Jangan tanya rasanya. Bisa lebih lezat bila dibanding dengan jenis bumbu apapun juga.

Apalagi bila tahu tersebut masih dalam keadaan hangat, maka nikmatnya akan makin bertambah. Lidah seakan dimanjakan bukan oleh tahu yang masuk kedalam mulut, namun karena peran dari petis udang yang warnanya hitam legam namun mampu melezatkan semua jenis makanan itu.

Dan selain tahu, masih ada jenis makanan lain yang ketika disantap bisa ditemani oleh petis udang. Ada ayam goreng, bakwan, bakmi goreng, daging bakso, nasi goreng dan lain-lain. Saus ini memang setia untuk menemani siapa saja, terutama makanan yang memasaknya dengan cara digoreng. Ditanggung, rasanya akan berbeda dan lezatnya tiada banding.


Cara membuat petis udang

Kebanyakan orang ketika menyantap suatu makanan dengan petisudang, pasti mendapatkannya dengan cara membeli. Padahal cara membuat petis ini sebenarnya gampang dan tidak begitu ribet.

Hal pertama kali yang harus dilakukan ketika membuat petis udang adalah mempersiapkan bahannya. Yaitu udang yang masih utuh. Namun bila harga udang dirasa terlalu mahal, kita bisa menggunakan kepala atau kulit udang yang harganya tentu jauh lebih murah dan hermat.

Setelah itu siapkan pula bahan untuk bumbunya, yaitu gula pasir atau jawa dan garam. Tidak lupa juga harus disediakan tepung tapioka atau beras. Bila kedua tepung ini tidak ada, bisa diganti dengan tajin. Yaitu air kental yang bisa didapat ketika sedang menanak nasi. Setelah semuanya tersedia dan siap, maka kita bisa memulai proses pembuatan.

Petis udang bisa dibuat dengan menggunakan dua cara. Cara pertama adalah bila kita menggunakan daging udang yang utuh. Udang tersebut dicuci hingga bersih dan tidak amis lagi. Setelah itu dilembutkan dengan cara ditumbuk dengan alu atau cobek lalu diremas dengan menggunakan tangan dan dikasih air kemudian disaring.

Lakukan hal tersebut hingga tiga kali. Untuk pedoman, setiap setengah kilogram udang maka air yang dibutuhkan adalah satu liter untuk setiap satu proses. Karena prosesnya tiga kali, maka airnya juga butuh tiga liter.

Bila proses penyaringan sudah selesai, maka air tersebut dikasih bumbu dan dipanaskan hingga bentuknya menjadi kental dan berwarna hitam. Tambahkan tepung tapioka atau beras maupun tajin bila ingin bentuk yang lebih kental. Bila sudah matang matikan api dan tunggulah beberapa saat. Bila sudah dingin, petis udang yang sudah matang ini bisa disimpan di dalam botol atau wadah lainnya.

Sedangkan cara yang kedua adalah bila bahan yang digunakan adalah kepala dan kulit udang. Caranya juga sama, namun air yang boleh digunakan maksimal hanya dua liter saja untuk tiga kali proses. Selamat mencoba resep ini.

Sumber : Clik here

I. Langkah Kerja

A. Bahan Baku dan Bumbu

1.Petis udang /ikan adalah hasil pengolahan kaldu / sari udang atau ikan yang diberi bumbu-bumbu,sehingga berbentuk pasta yang berwarna cokelat kehitaman dan mempunyai aroma yang khas.
Petis dapat dibuat dari :
- Udang / ikan
- Sisa-sisa udang pemanfaatan limbah kepala dan kulit dan
- Sari ikan dari pembuatan pindang

2. Bumbu

Pada pembuatan petis ikan dan udang, bumbu-bumbu yang ditambahkan adalah gula merah / putih dan garam. Untuk mempercepat proses pengentalan dan memperbaiki konsentrasi dapat ditambah bahan-bahan pengental, seperti tepung beras, tapioka atau air tajin.

B. Proses Pengolahan

ada 2 cara pengolahan petis, yaitu yang berasal dari sari udang dan daging udang / ikan

1.Cara pengolahan petis dari sari udang

a.Bersihkan dan cuci udang / sisa-sisa kepala dan kulit udang
b.Rebus dengan air hingga mendidih ( untuk 0,5 kg udang direbus dalam 2 liter air selama 40 – 45% menit )
c.Saring air rebusan tersebut dan beri bumbu-bumbu, seperti : gula dan garam
d.Panaskan kembali hingga mengental dan berbentuk pasta
e.Dinginkan dan masukkan dalam wadah plastik atau botol

2. Cara pengolahan dari daging udang / ikan

a.Udang dicuci bersih dan ditumbuk halus kemudian diremas-remas dengan tangan sambil diberi air dan disaring
b.Lakukan pekerjaan ini sampai 3 kali
c.Sebagai pedoman, untuk 0,5 gr udang diperlukan 3 liter air yang pengunaannya bertahap sebanyak 3 kali yang diperlakukan sama sepertu di atas
d.Hasil saringan dipanaskan sambil diberi bumbu garam dan dan gula merah secukupnya sampai mengental
e.Dinginkan dan tempatkan dalam wadah plastik / botol

C. Penyajian

Biasanya petis dikonsumsi sebagai bumbu sambal pada rujak buah /sayur, sebagai teman makan tahu atau juga untuk bumbu tambahan pada nasi goreng.

Sumber : Clik here


Aspek Produksi Petis Udang

Limbah udang / kepala udang dapat diolah dan merupakan bahan baku pembutan petis salah satu produk industri kecil yang telah banyak dikenal dan makin digemari oleh masyarakat kita, maka untuk memenuhi kebutuhan konsumen perlu kiranya diimbangi dengan usaha–usaha peningkatan produksi dan mutu yang baik. Di banyak daera di Indonesia khususnya di provinsi Kalimantan Timur, produksi udang makin meningkat, baik hasil tangkapan nelayan di laut, sungai, maupun hasil budidaya tambak.
Limbah kepala udang sebagian besar belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Untuk mengoptimalkan manfaat dan nilai ekonomis dari limbah udang tersebut, maka dalam uraian ini akan dijelaskan cara pengolahan petis, aspek teknis, aspek ekonomis dan keuangan. Melihat peralatan yang digunakan sangat sederhana serta modal yang relatif kecil, maka usaha ini dapat dilakukan oleh masyarakat nelayan dipedesaan.
Jika diasumsikan kita akan berproduksi dengan kapasitas produksi petis udang 16 kg perhari atau 4800 kg/th, dengan hasil 48.000 pak (botol)/tn (1 pak = 1/10kg), maka bahan baku dan bahan penolong yang dibutuhkan adalah 15 kg kepala udang (5 kg babonan petis), 16 ons garam, 8 kg tepung tapioka, 16 kg gula pasir, dan bahan pewarna secukupnya / hari. Ini akan menghasilkan 16 kg petis udang. dan kerusakan diasumsikan 10%, sehingga yang dapat dijual hanya 90% saja.
A) Bahan Baku dan Bahan Penolong
Bahan baku utama industri pengolahan petis adalah limbah yang berupa kepala udang, rinciannya adalah :

No
Jenis
Kebutuhan
Satuan
1
Kepala Udang
15
Kg
2
Gula Pasir
16
Kg
3
Air
7.5
Liter
4
Bawang Putih
20
Kg
5
Garam ber Yodium
16
Pak
6
Kantong Plastik
1
Pak
7
Tepung Tapioka
8
Kg
8
Minyak Tanah
10
Liter

B) Peralatan yang digunakan
Peralatan yang digunakan jumlahnya tergantung dari besar kecilnya usaha yang akan dilaksanakan. Jenis peralatan yang digunakan antara lain :

No
Jenis
Kebutuhan
Satuan
1
Panci / wajan
4
Buah
2
Baskom Plastik
4
Buah
3
Ember Plastik
4
Buah
4
Gilingan Udang
1
Buah
5
Saringan
4
Buah
6
Pisau
4
Buah
7
Sendok
4
Buah
8
Timbangan
2
Buah
9
Plastik sealer
1
Buah
10
Kompor
2
Buah

C) Proses Produksi / Pegolahan
Sebenarnya proses pembuatan petis ini terdiri dari dua tahap yaitu tahap pembuatan babonan petis dan tahap pembuatan petis.
C.1 Proses pembuatan babonan petis
1) Pencucian
Bahan mentah (kepala udang) harus dicuci bersih. Pencucian tidak bersih akan memberikan kesempatan berkembangnya bakteri pembusuk pada bahan mentah yang diolah, sehingga produk yang dihasilkan akan mempunyai mutu rendah.
2) Penumbukan / penggilingan
Penumbukan / penggilingan dimaksudkan untuk mendapatkan udang yang sebanyak–banyaknya. Penumbukan yang halus selain berpengaruh pada jumlah sari juga terhadap hasil babonan.
3) Penyaringan/pemerasan
Penyaringan/pemerasan dimaksudkan untuk memisahkan antara sari dan ampasnya.
4) Pengentalan
Sari udang yang diperoleh dari hasil penyaringan, kemudian dimasak sampai kental. Hasil yang diperoleh ini disebut babonan petis. Proses pengentalan ini dapat juga ditambah gula.
Secara umum bagan proses pembuatan babonan petis sbb :
  •  Kepala udang
  •  Penumbukan/Penggilingan
  •  Penyaringan/pemerasan
  •  Pengentalan
  •  Babonan petis.
C.2 Proses pembuatan Petis
Proses pembuatan Petis
Perbandingan bahan adalah sebagai berikut :
Babonan : Gula : Garam : Tepung : Air = 3 : 10 : 1 : 5 : secukupnya
1) Membuat Larutan Gula dan Garam
Gula dan garam dimasukkan ke dalam air secukupnya sampai semua garam dan gula larut.
2) Membuat Adonan
Tepung dilarutkan dengan sedikit air, kemudian dimasukkan ke dalam larutan garam dan gula tadi.
3) Pencampuran dan Pemasakan
Sambil adonan dipanaskan dan diaduk terus, babonan petis dimasukkan. Pemanasan dilakukan sampai campuran/adonan tersebut mengental.

Hal-hal yang harus diperhatikan.
  • Tepung yang digunakan sebaiknya tepung gaplek sebab nilai kalori, Karbohidrat kadar protein dan kadar lemaknya lebih tinggi dari pada tepung onggok.
  • Tepung tersebut dimasak dengan air terlebih dahulu, kemudian dibiarkan selama 3 hari baru ditambahkan pada pembuatan petis yang akan diolah.
  • Dianjurkan kadar gula dalam petis minimum 45%, sebab fungsinya sebagai bahan pengawet.
  • Pemakaian garam hendaknya garam beryodium.
  • Makin banyak babonan petis yang digunakan akan makin mempertinggi kadar protein dalam petis.
D). Pencegahan Pencemaran Lingkungan.
Limbah bahan baku berupa kulit udang dan lain-lain, dibuang ke dalam sebuah lubang sedalam 20 m, dengan panjang 2 m x 2 m. Bila lubang tersebut telah penuh, ditutup kembali dengan tanah kemudian dibuatkan lagi lubang serupa. Dengan demikian tidak terjadi pencemaran lingkungan akibat adanya usaha ini. Daging udang dapat diolah kembali sedemikian rupa menjadi kerupuk udang.
Sumber : Clik here
Browser : Soelistijono